Sabtu, 05 Mei 2012





 A.    Latar Belakang

Post positivisme merupakan aliran yang ingin memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme yang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. Secara ontologis aliran ini bersifat critical realism yang memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan, sesuai dengan hukum alam, tetapi satu hal yang  mustahil bila suatu realitas   dapat dilihat secara benar oleh manusia (peneliti). Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi tidaklah cukup, tetapi harus menggunakan metode triangulation yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, peneliti dan teori.
Post positivisme merupakan sebuah aliran yang dating setelah positivism dan memang amat dekat dengan paradigma positivisme. Salah satu indikator yang membedakan antara keduanya bahwa post positivisme lebih mempercayai proses verifikasi terhadap suatu temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode. Dengan demikian suatu ilmu memang betul mencapai objektivitas apabila telah diverifikasi oleh berbagai kalangan dengan berbagai cara.  Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas tentang pembahasan verifikasi secara mendalam.


B.    Rumusan Masalah

1.    Bagaimana sejarah vienna circle atau verifikasi?
2.    Apa yang dimaksud dengan verifikasi?
3.    Bagaimana pendapatvienna circle tentang filsafat?


C.     Tujuan

1.     Mengetahui sejarah vienna circle atau verifikasi
2.     Memahami definisi verifikasi
3.    Memaparkan pendapat vienna circle tentang filsafat

PEMBAHASAN

A.    Sejarah Vienna Circle atau Verifikasi

Secara umum bisa dikatakan bahwa akar sejarah pemikiran positivisme dapat dikembalikan kepada masa Hume (1711-1776) dan Kant (1724-1804). Hume berpendapat bahwa permasalahan-permasalahan ilmiah haruslah diuji melalui percobaan. Sementara Kant adalah orang melaksanakan pendapat Hume ini dengan menyusun Critique of pure reason (Kritik terhadap pikiran murni). Selain itu Kant juga membuat batasan-batasan wilayah pengetahuan manusia dan aturan-aturan untuk menghukumi pengetahuan tersebut dengan menjadikan pengalaman sebagai porosnya.
Pada paruh kedua abad XIX muncullah Auguste Comte (1798-1857), seorang filosof sosial berkebangsaan Perancis, yang banyak mengikuti warisan pemikiran Hume dan Kant. Melalui tulisan dan pemikirannya, Comte bermaksud memberi peringatan kepada para ilmuwan akan perkembangan penting yang terjadi pada perjalanan ilmu ketika pemikiran manusia beralih dari fase teologis, menuju fase metafisis, dan terakhir fase positif.
Semasa dengan Comte ini muncul pula John Stewart Mill (1803-1873)—filosof logika berkebangsaan Inggris—dan Herbert Spencer (1820-1903) yang dianggap sebagai tokoh penting positivisme pada pertengahan kedua abad XIX dan dalam waktu yang bersamaan dianggap sebagai tokoh positivisme terakhir untuk periode pertama (periode Comte-Mill-Spencer). 
Periode kedua dari perkembangan positivisme banyak diwarnai oleh pemikiran dan pendapat filosof Ernst March (1838-1916), yang dikenal sebagai tokoh Empiriokritizimus atau kadang disebut juga dengan Machisme. Selain March dikenal pula Avenarius, Person dan Henri Poincare.
Pada tahun 1920-an, positivisme mengalami perkembangan yang cukup pesat dengan hadirnya kaum positivis logis yang tergabung dalam Lingkaran Wina (vienna circle). Lingkaran Wina (vienna circle) adalah suatu kelompok diskusi yang terdiri dari para sarjana ilmu pasti dan alam yang berkedudukan di kota Wina, Austria. Setiap minggu mereka berkumpul untuk mendiskusikan masalah-masalah filosofis yang menyangkut ilmu pengetahuan. Kelompok ini didirikan oleh Moritz Schlick pada tahun 1924, meski sebenarnya pertemuan-pertemuannya sudah berlangsung sejak 1922, dan berjalan terus hingga 1938. Anggota-anggotanya antara lain: Moritz Schlick (1882-1936), Hans Hanh (1880-1934), Otto Neurath (1882-1945), Victor Kraft (1880-1975), Harbert Feigl (1902) dan Rudolf Carnap (1891-1970). Diantara para anggota Lingkaran Wina filsuf yang menarik perhatian adalah Rudolf Carnap. Pengaruhnya atas filsafat dewasa ini dapat disetarakan dengan Russel dan Wittgenstein. Ia seorang pemikir yang sistematis dan orisinil.
Pandangan yang dikembangkan oleh kelompok ini disebut neopositivisme, atau sering juga dinamakan positivisme logis. Sebagai penganut positivisme, secara umum mereka berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman, namun secara khusus dan eksplisit pendirian mereka sebagai berikut:
a.    Mereka menolak perbedaan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial
b.    Menganggap pernyataan-pernyataan yang tak dapat diverifikasi secara empiris, seperti estetika, etika, agama, metafisika, sebagai nonsense.
c.    Berusaha menyatukan semua ilmu pengetahuan di dalam satu bahasa ilmiah yang universal (Unified Science)
d.    Memandang tugas filsafat sebagai analisis atas kata-kata atau pernyataan-pernyataan.


B.    Definisi Verifikasi

Verifikasi (Inggris: verification) adalah teori filsafat positifis logis dalam memilih yang menyatakan bahwa pengalaman adalah satu-satunya sumber dasar pengetahuan dan dalam analisa logis dapat dilakukan dengan bantuan simbol-simbol logika dengan menggunakan metode untuk memecahkan masalah melalui metode verifikasi empirik yaitu bila terdapat sesuatu yang tidak dapat diverifikasi secara empirik maka hasilnya adalah sia-sia. penganut teori radikal ini memiliki masalah konsekuensi untuk filosofi tradisional, karena, jika benar, akan menyebabkan banyak pekerjaan sia-sia pada filosofis masa lalu, antara lain pada metafisika dan etika.
Verifikasi berasal dari bahasa Inggris, yakni ‘Verification’, yang artinya pemeriksaan tentang suatu kebenaran atas laporan, pernyataan, dan lain-lain. Verifikasi merupakan salah satu cara pengujian hipotesis yang tujuan utamanya adalah untuk menemukan teori-teori, prinsip-prinsip, generalisasi, dan hukum-hukum. Verifikasi adalah pandangan yang dikembangkan oleh Neo-Positivisme atau yang di kenal Positivisme Logis. Pandangan ini dipengaruhi oleh Auguste Comte  (1798-1857) tentang pengetahuan yang berlandaskan pada pendekatan logis dan pasti (positif). 
Menurut Moritz Sclick, Verifikasi merupakan pengamatan empiris secara langsung, artinya pernyataan yang di ambil langsung dari objek yng di amati itulah yang benar-benar mengandung makna. Oleh karenanya, pengetahuan di mulai dari suatu pengamatan peristiwa. Dalam hal ini Alfred Jules Ayer menegaskan bahwa Verifikasi merupakan suatu cara untuk merumuskan suatu proposisi (pernyataan) jika pernyataan yang diungkapkan itu dapat di analisis atau dapat di verifikasi secara empiris.
Pada dasarnya Verifikasi di gunakan untuk mencari garis pemisah antara pernyataan yang bermakna (meaningful) dan yang tidak bermakna (meaningless). Artinya, jika suatu pernyataan dapat di verifikasi, maka pernyataan tersebut adalah bermakna (ilmiah), sebaliknya jika suatu pernyataan tidak dapat diverifikasi, maka pernyataan tersebut tidak bermakna (non ilmiah). Dalam hal ini, prinsip dasar verifikasi ialah terletak pada proposisinya (suatu pernyataan). Suatu proposisi dinyatakan bermakna jika dapat diuji dengan pengalaman (empiris) dan dapat diverifikasi dengan pengamatan(observasi).
Pandangan Verifikasi menolak atas metafisika. Karena metafisika di anggap tidak bermakna sebab metafisika mengandung proposisi yang tidak dapat di verifikasi. Menurut Rudolf Carnap, metafisika merupakan proposisi yang “Pseudo-Statements”, yakni suatu proposisi (pernyataan) yang melanggar aturan-aturan sintaksis logika dari pembuktian empiris. Oleh karenanya, pernyataan metafisis harus ditolak, karena metafisis bertentangan dengan kriteria empiris.
Carnap selanjutnya membedakan antara verifikasi langsung dan tidak langsung. Apabila suatu pernyataan yang menunjukkan sebuah persepsi sekarang, seperti “sekarang saya melihat lapangan merah dengan dasar biru”, maka saya pernyataan ini dapat diuji secara langsung dengan persepsi kita sekarang. Pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara langsung dengan penglihatan. Artinya, jika tidak dilihatnya, maka ia terbantah. Sementara terhadap verifikasi tidak langsung Carnap memberikan jalan lewat deduksi dari pernyataan perseptual. Suatu pernyataan yang mengandung makna teoritis, tidak mungkin diverifikasi dengan menghadirkan image sesuatu, tetapi dengan kemungkinan pendekdusian dari pernyataan perseptual tersebut, karena kemungkinan verifikasi.  
Dengan kata lain yang dimaksud dengan verifikasi adalah teori filsafat logis yang mengatakan bahwa sumber pengetahuan itu berasal dari pengalaman yang kemudian  diuji dengan metode verifikasi yang dibuktikan kebenarannya secara empiris. Apabila pernyataan tersebut dapat diverifikasi maka pernyataan tersebut bermakna (ilmiah), dan apabila pernyataan itu tidak dapat diverifikasi maka pernyataan itu tidak bermakna (non ilmiah) seperti estetika, etika, agama, metafisika. Tujuannya untuk menemukan teori-teori, generalisasi dan hukum.
Contoh verifikasi adalah memverifikasi bahwa langit berwarna biru, Anda hanya melihat langit. Oleh karena itu, menurut positivis logis, Anda tahu apa yang saya maksud ketika saya berpendapat bahwa langit berwarna biru. Demikian pula, Anda tahu bagaimana untuk memverifikasi bahwa kursi yang saya duduki adalah biru. Yang Anda harus lakukan adalah datang ke ruangan tempat saya duduk dan melihat kursiku. Hal ini, menurut positivis logis, merupakan kriteria yang perlu dipenuhi agar kalimat menjadi bermakna jika itu adalah pernyataan fakta tentang dunia.


C.    Pendapat Lingkaran Wina Tentang Filsafat

Filsafat menurut pendapat Lingkaran Wina, tidak mempunyai suatu wilayah penelitian tersendiri. Realitas empiris dengan segala aspeknya dipelajari oleh ilmu pengetahuan khusus, sementara suatu realitas yang non-empiris dan transenden dan transenden tidak mungkin menjadi pengetahuan. Objek filsafat tradisional seperti ‘Ada yang absolut’ tidak dapat menjadi wilayah yang digarap oleh pengetahuan kita, karenanya pernyataan-pernyataan yang menyangkut objek-obje yang demikian itu merupakan pernyataan semu. Problem-problem kefilsafatan juga hanya semu belaka, karena tidak didasarkan pada penggunaan bahasa yang bermakna (meaningfull), tetapi menggunakan bahasa yang penuh emosi dan perasaan (emotional use of language).
Berdasarkan pemahaman di atas, tugas tunggal yang tertinggal bagi filsafat ialah memeriksa susunan logis bahasa ilmiah , baik dalam rumusan penyelidikan ilmu alam, maupun dalam logika dan matematika. Dengan demikian, filsafat ilmu adalah logika ilmu. Filsafat ilmu  harus disusun berdasarkan analogi logika formal. Sebagaimana logika formal selalu menyibukkan diri dengan problem ‘bentuk’ (forma), dan bukannya dengan ‘isi’ proposisi dan argumen, demikian pula logika ilmu lebih mengurusi bentuk-bentuk logis pernyataan ilmiah.
Dengan kata lain menurut pendapat Lingkaran Wina tentang filsafat adalah filsafat tidak mempunyai wilayah penelitian sendiri. Dalam kajian filsafat biasanya yang dibahas adalah pernyataan-pernyataan yang semu dan masalah-masal dalam filsafat juga hanya semu belaka. Sehingga dalam pengunggkapan bahasa menggunakan bahasa yang penuh emosi, bukan menggunakan bahasa yang mermakna (meaningfull).

PENUTUP

Kesimpulan
Sejarah lahirnya Lingkaran Wina dimulai pada tahun 1920-an, yang mana positivisme mengalami perkembangan yang cukup pesat dengan hadirnya kaum positivis logis yang tergabung dalam Lingkaran Wina (vienna circle). Lingkaran Wina (vienna circle) adalah suatu kelompok diskusi yang terdiri dari para sarjana ilmu pasti dan alam yang berkedudukan di kota Wina, Austria. Setiap minggu mereka berkumpul untuk mendiskusikan masalah-masalah filosofis yang menyangkut ilmu pengetahuan. Kelompok ini didirikan oleh Moritz Schlick pada tahun 1924, meski sebenarnya pertemuan-pertemuannya sudah berlangsung sejak 1922, dan berjalan terus hingga 1938.
Verifikasi adalah teori filsafat positifis logis dalam memilih yang menyatakan bahwa pengalaman adalah satu-satunya sumber dasar pengetahuan dan dalam analisa logis dapat dilakukan dengan bantuan simbol-simbol logika dengan menggunakan metode untuk memecahkan masalah melalui metode verifikasi empirik yaitu bila terdapat sesuatu yang tidak dapat diverifikasi secara empirik maka hasilnya adalah sia-sia. penganut teori radikal ini memiliki masalah konsekuensi untuk filosofi tradisional, karena, jika benar, akan menyebabkan banyak pekerjaan sia-sia pada filosofis masa lalu, antara lain pada metafisika dan etika.
Filsafat menurut pendapat Lingkaran Wina, tidak mempunyai suatu wilayah penelitian tersendiri. Realitas empiris dengan segala aspeknya dipelajari oleh ilmu pengetahuan khusus, sementara suatu realitas yang non-empiris dan transenden dan transenden tidak mungkin menjadi pengetahuan.


DAFTAR PUSTAKA

Hidayati, Anis. Dogmatis, Spekulatif, Verifikatif, dan Falsifikatif, http:\tugas\verifikasi\dogmatis, spekulatif, verifikatif, dan falsifikatif _ anis_hidayati.htm. diakses tgl 9 Oktober pkl 07.10 WIB

http\Download\Asas Verifikasi dan Tugas Filsafat<< selembar kertasku.htm. di akses tanggal 19 Oktober 2011 pkl 09.00 WIB

http://z15.invisionfree.com/Paradisia/ar/t2649.htm. diakses tgl 05 Desember  pkl 09.10WIB

http://id.wikipedia.org/wiki/verifikasi, diakses pada tgl 9 Oktober 2011 pkl 07.00WIB

Muslih, Mohammad. Filsafat Ilmu Kajian Atas Dasar Paradigma dan KerangkaTeori dan Ilmu  Pengetahuan. Yogyakarta:Belukar Gowok, Komplek Polri. 2006

Muslih, Mohammad. Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Islam, Jurnal Tsaqofah Vol 3, nmr 02. 1428H


silakan KLIK di sini untuk mendapatkan materi yang lainnya... (tunggu 5 detik kemudian klik Lewati/Skip)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar